Sabtu, 22 November 2008

Kisah Penumpang Kapal Tenggelam

Dua Hari Terapung Tanpa Makan

KAPAL nelayan yang tenggelam di selat Makassar menyisahkan banyak cerita. Mulai dari mereka dibius hingga terapung-apung bersama rakit tanpa makan dan minum selama dua hari tiga malam di atas laut.
****

RAUT wajahnya terlihat lelah. Tubuhnya yang kekar masih cukup lemas. Kulit mukanya merah kehitam-hitaman habis dibakar matahari. Tangan dan kakinya, terlihat terkelupas.

Begitulah kondisi Syamsuddin, 31 tahun, satu dari enam penumpang yang kapal tenggalam yang berhasil diselamatkan KM Ciremai, milik PT Pelni yang dirawat di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Makassar, Jumat 13 Juli di Pulau Dewakang Bau, tepat di posisi 05-22-059 LS/118-14,791-BT.

Kondisi serupa juga dialami
lima orang korban kapal tenggelam lainnya. Mereka masing-masing, Dg Rurung, 40, Dg Lallo (ABK), 70, Mansyur, 46, Henny, 13, dan Dg Bella, 33.

Di klinik Pelabuhan Soekarno Hatta itu, mereka dibaringkan sambil diberikan susu dan bubur.

Syamsuddin terlihat lahap memakan makanan yang diberikan pihak klinik. Maklum, lebih dua hari mereka bertahan tanpa makan dan minum di tengah selat Makassar.

"Kita tenggelam sekitar pukul 10.30 Rabu malam (22.30 Wita, Red), sejak saat itu kita terapung dan tidak makan apa-apa," kenang Syamsuddin, lelaki rambut panjang ini kepada Fajar.

Seperti diberitakan, Syamsuddin bersama 30-an penumpang lainnya tenggelam saat menumpangi sebuah kapal nelayan yang berangkat dari Pulau Kalukuang, Kabupaten Pangkep sejak Rabu 10 Juli pukul 08.00 Wita pagi. Mereka baru dievakuasi KM Ciremai sekitar pukul 10.30 Wita, Jumat 13 Juli.

Bagaimana cara ayah dua anak yang tinggal di Moncobalang, Gowa ini bersama penumpang lain berusaha bertahan hidup? Syamsuddin menceritakan, Rabu malam sekitar pukul 22.15 Wita gelombang dengan ketinggian sekitar enam meter, menghantam kapal pencari ikan yang ditumpangi.

Mungkin, kapasitas penumpang yang berlebihan, kapal tersebut tidak mampu bertahan dan terbalik. Semua penumpang dalam kondisi panik, ikut bersama kapal tersebut masuk ke dalam air. "Saat itu ada penumpang yang mencari jeriken ada juga yang mencari papan untuk terapung," tambah Syamsuddin.


Lelaki kelahiran 1976 ini mengaku, saat itu dia tidak memikirkan untuk menyelamatkan barang bawaannya. Matanya langsung tertuju pada sebuah rakit bambu yang berukuran sekitar 2 meter persegi.

Tanpa menunggu lama, dia pun meraih rakit tersebut. Di tengah terjangan ombak yang tidak berhenti, dia melihat dua orang wanita dewasa dan seorang anak-anak. "Saya berusaha untuk tolong mereka yang berenang. Tapi saat itu, saya hanya berhasil menolong yang anak-anak. Yang perempuan duanya saya tidak tahu, mungkin sudah meninggal," tambahnya.

Sekadar diketahui, perempuan remaja berumur 13 tahun yang ditolong Syamsuddin diketahui bernama Henny. Dia juga salah satu penumpang kapal nahas yang berhasil diselamatkan KM Ciremai. Kondisinya cukup parah, sehingga dirawat khusus di RS Bhayangkara.

Syamsuddin mengaku, setelah berhasil menolong Henny, dia pun kembali ke rakit bersama empat penumpang kapal lainnya. Saat itu, mereka mulai terapung-apung tanpa tujuan. "Waktu rakit menjauh dari lokasi kapal tenggelam, masih ada penumpang yang melambai tangan, tapi jauh," kenangnya.

Di atas rakit, mereka terapung tanpa makanan dan minuman apapun. Bahkan, beberapa penumpang yang bertahan di atas rakit, tidak menggunakan baju, sehingga kulitnya dibakar matahari.

"Ini kuasanya Allah. Kita bisa selamat tanpa makan dan minum pak," tambah Mansyur, salah satu penumpang kapal nahas selamat yang ditemui Fajar di Kantor Kesehatan Pelabuhan. Kondisi Mansyur juga cukup lemas. Kata-kata yang disampaikan masih terbata-bata.

Syamsuddin dan Mansyur menceritakan, hingga siang hari, ketika terapung hingga Kamis siang, kondisi mereka sudah sangat lemas dan tertidur di atas rakit bambu, karena lapar dan haus. "Ada ABK (Anak Buah Kapal) yang suntik ki pakai obat di atas rakit. Anak perempuan itu sekitar empat kali disuntik, karena lemas sekali. Saya cuma satu kali," ungkap Mansyur.

Di atas rakit tersebut, kata Syamsuddin, yang dia ingat hanya kedua anaknya yang sudah ditinggalkan selama sebulan terakhir ini. Untungnya, diantara kecemasan mereka, kata Syamsuddin, tiba-tiba KM Ciremai melintas dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rakit mereka. Syamsuddin yang menggunakan baju, langsung menggunakan untuk melambai ke arah meminta pertolongan.

Beruntung. Lambaian baju itu dilihat KM Ciremai, dan memperlambat laju kapal. "Waktu kapal berhenti, kami langsung bersyukur," tambah Syamsuddin yang berprofesi sebagai nelayan ini.

Di KM Ciremai, mereka kemudian diberi pertolongan dan diberikan baju untuk digunakan.

Sekadar diketahui, dari 30-an penumpang yang terdapat, hanya enam yang berhasil diselamatkan. Sementara 24 penumpang plus ABK kapal belum jelas nasibnya. (*)

[makassar, 15 July 2007]

Jumat, 21 November 2008

EKSLUSIVE INTERVIEW [dua]


Laksamana Cheng Ho Jadi Daya Tarik Menuju RI 1

Genderang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 belum juga ditabuh. Namun, sejumlah tokoh politik nasional telah melakukan berbagai manuver. Mulai dari sosialisasi figur kandidat hingga merancang sederet platform politik.

Semua itu untuk meraih simpatik seluruh konstituen di republik ini. Salah satu tokoh yang disebut-sebut bakal memanfaatkan momen menduduki kursi RI 1 adalah Ketua Dewan Syuro Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra.

Seperti apa pandang mantan Menkum HAM tersebut terhadap bangsa ini? Bagaimana intrik politik dari mantan Ketua Umum DPP PBB tersebut? Lalu, bagaimana Yusril mengurai setiap persoalan yang sekian lama mendera bangsa ini? Secara gambling, kepada Jurnalis Harian Fajar, ABDUL RAHMAN, Yusril membeberkan ide-idenya saat berkunjung di redaksi Fajar, Jumat 23 Mei.

Selamat malam! Kesan Anda setelah hadir di Makassar?

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan Harian Fajar menerima dengan baik kunjungan saya malam ini. Yang pasti bahwa saya tidak tahu masalah apa yang bagus untuk saya bicarakan. Jadi bergantung apa yang akan
ditanyakan dan saya akan menjawabnya.

Anda disebut-sebut bakal mencalonkan diri pada Pilpres 2009 mendatang. Apa yang Anda lakukan untuk mempersiapkan amunisi pada momen itu?

Rupa-rupanya saya harus menyampaikan visi-misi. Sekarang ini belum saatnya kampanye seperti tokoh politik lain. Akibatnya, ada salah satu tokoh politik nasional yang telah kena "semprit" dari SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, red). Saya melihat bahwa sekarang sudah saatnya kita berpikir secara lebih sistematik, cerdas, dan tepat terkait masalah-masalah mendasar yang dialami negara kita ini. Lebih 60 tahun kita merdeka, dan banyak kemajuan-kemajuan yang kita lakukan di berbagai bidang, seperti bidang sosial, politik, ekonomi yang kita capai.

Tapi, banyak juga hal-hal yang kita rasakan kurang dan masih merupakan satu tantangan-tantangan berat di masa sekarang dan masa yang akan datang dan kita melihat suatu pemecahan yang sistematik tentang hal itu. Jadi, dari segi konsep kita bernegara, saya melihat bahwa apa yang sudah kita lakukan mulai dari era reformasi telah melakukan amandemen terhadap konstitusi yang sebenarnya hal itu sudah berada pada sisi yang benar.

Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kita pertajam dan kita perjelas karena kesimpangsiuran terhadap masalah ini akan mempunyai dampak ke berbagai sektor. Seperti, bidang politik, ekonomi dan sosial.

Seperti apa perubahan- perubahan mendasar yang telah dilakukan terhadap bangsa ini?

Saya melihat bahwa itikad untuk melakukan perubahan pada arah yang baik terus digalakkan. Contohnya, telah dibentuknya lembaga-lembaga baru untuk menciptakan masyarakat yang lebih demokratis, lebih transparan. Tetapi, di samping itu juga kita menemukan banyak kejanggalan-kejanggalan dalam pelaksanaannya. Dan, pertanyaan yang mendasar adalah apakah kita ingin betul-betul mau menciptakan apa yang dikawal reformasi, atau kita ingin memperkuat salah satu institusi kenegaraan itu sendiri.

Seperti apa yang Anda maksudkan?

Contohnya saja institusi DPR. Sepertinya, DPR kita itu lebih kuat dari lembaga yang lain. Padahal yang kita inginkan adalah keseimbangan dan saling mengontrol antarlembaga-lembaga negara itu. Ini mesti didudukan secara bersama bahwa sistem kita tetap sistem presidential, walaupun mengandung elemen-elemen parlementer di dalamnya. Tetapi saya tekankan bahwa kita tidak mengarah ke sistem parlementer itu. Hal yang tidak menjadi konsen kita bersama adalah mengenai otonomi daerah ini.

Selalu muncul pertanyaan bahwa akan ke mana perjalanan bangsa dan negara kita kedepan?

Kita tidak bisa bergerak ke pendulum satu ke pendulum lain secara institusi. Dulu sangat sentralistis, sekarang kita mau desentralisasi. Semuanya itu diserahkan kepada daerah. Akibatnya, akan menghambat laju gerak pembangunan sosial dan ekonomi kita sendiri.

Apa yang Anda inginkan sebenarnya?

Menurut saya, sebenarnya sudah saatnya kita mengkaji ulang masalah ini dengan jiwa
dan semangat yang lebih besar. Betulkah bahwa kewenangan dari pemerintah pusat itu hanya penanganan dalam negeri berupa pertahanan, keamanan, hokum,dan agama.

Sementara banyak masalah-masalah yang sebenarnya membutuhkan suatu penanganan secara integratif, tidak menimbulkan suatu krusial di daerah,tapi juga memperlancar proses pengambilan keputusan dalam rangka mendukung investasi kegiatan-kegiatan lini di daerah.

Dan, saya lihat masalah ini juga harus kita lakukan pembenahan-pembenahan yang lebih sistematik, sehingga masing-masing daerah tidak jalan sendiri. Selain itu, tidak bisa suatu aturan di daerah yang dijalankan lantas kemudian diblok oleh satu daerah lain.

Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Jawa kita bangun pembangkit listrik di Palembang. Kabupatennya setuju, tapi ketika mau bangun transmisi melewati kabupaten malah tidak setuju. Memang ini akan menyulitkan laju kita ke depan.

Karena itu, saya melihat bahwa sudah saatnya kita mengkaji ulang masalah ini tanpa mengurangi lebih banyak, tapi memberikan juga kewenangan-kewenangan kepada pemerintah pusat dan provinsi untuk mengintegrasikan kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi di daerah-daerah, sehingga tidak mengalami hambatan yang banyak sekali.

Apa dampak yang ditimbulkan dengan adanya hal itu?

Sekarang ini kita lihat investor yang sulit sekali bernegosiasi dengan begitu banyak bupati, walikota dengan kemauan serta keinginan yang berbeda. Saya sampai sekarang berpendirian bahwa sebaiknya titik berat ekonomi itu diberikan bukan
kepada kabupaten, tapi provinsi.

Untuk pemilihan kepala daerah itupun sebenarnya hanya fokus kepada gubernur yang bisa dipilih langsung oleh rakyat. Tidak dengan sekarang ini sampai bupati, walikota, dan dengan dampak yang cukup luas, terutama banyak sekali pemilu dan menimbulkan dampak di bidang sosial dan politik.

Pilkada ini ditambah pemilu presiden, pemilu DPR, dan DPD. Banyak sekali pemilu dan semuanya itu menimbulkan cost politik yang tinggi. Saya melihat bahwa politisi kita itu bisa banyak kategorinya. Ada yang betul-betul berjuang habis untuk kepentingan orang banyak sehingga sempat banyak berpikir tentang diri sendiri.

Ada juga yang lebih banyak berpikir tentang diri sendiri dan tidak sempat berpikir untuk orang banyak. Ada juga yang pikir orang banyak, tapi berpikir untuk diri sendiri juga. Tapi cost politik yang tinggi ini sebenarnya sedikit banyaknya juga membuat yang dampak kurang sehat bagi upaya awal reformasi untuk memberantas habis praktik KKN.

Tapi dengan politik yang memerlukan biaya tinggi ini sedikit demi sedikit juga seperti agak kontradiksi. Seperti kita tahu bahwa biaya pemilihan persiden (pemilihan umum) itu sampai Rp12 triliun, itu biaya yang sangat besar sekali. Itu yang dikeluarkan oleh Negara, belum lagi yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan (para calon. red) untuk kampanye-kampanye sendiri. Sementara masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang semestinya harus dipenuhi oleh negara untuk lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat ini.

Menurut Anda apa yang menjadi persoalan vital yang dihadapi oleh bangsa ini akibat otonomi daerah?

Sekarang ini saya melihat bahwa tidak banyak kekhawatiran tentang disintegrasi bangsa seperti awal-awal reformasi dulu. Pemikirannya pada masa itu kalau diberikan kepada provinsi, maka provinsi itu lebih gampang lepas daripada lepasnya kabupaten. Jadi mungkin ada benarnya, tapi dengan lebih banyak kabupaten/kota yang baru dibentuk sekarang ini lebih menyulitkan juga pemerintah pusat dalam melakukan koordinasi membangun daerah-daerah itu. Lebih mudah bagi presiden itu mengawasi 40 gubernur dari pada mengawasi hampir 500 bupati/walikota seperti sekarang ini. Apalagi hubungan itu biar sebetulnya relatif tapi ada kewenangan spesifik yang diberikan yang sekarang ini sepertinya mencoba jalan sendiri.

Jadi mestinya otonomi daerah ini seperti apa?

Kalau saya sebenarnya, penguatan otonomi ada pada provinsi saja. Tapi barang yang
sudah diberikan itu jangan diambil semua. Mendagri sudah melakukan telaah secara
komprehensif, mana yang gagal berhasil, dan jalan di tempat. Awalnya, saya membayangkan idealnya Indonesia itu ada 43 provinsi, dan otonomi itu diberikan pada provinsi tersebut. Namun Ryaas Rasyid pada saat itu fokus pada kabupaten.

Saya katakan pada saat itu bahwa lebih banyak orang sepakat memecah satu kabupaten menjadi dua ketimbang menggabungkan dua kabupaten menjadi satu. Akibatnya, banyak ekses yang timbul dari adanya pemekaran kabupaten tersebut. Jadi saya pikir dari pada kita banyak membangun infrastruktur pemerintahan dengan perluasan semacam ini, maka lebih baik undang-undang pemekaran wilayah itu harus dikaji ulang.

Sekarang ini, lebih banyak pemekaran wilayah itu diusulkan oleh DPR dari pada usul pemerintah setempat. Ironisnya, pemerintah seakan-akan tidak berdaya dan tidak berani untuk menolak. Menurut saya, praktik otonomi daerah untuk pilkada, cukup gubernurnya saja yang melakukan pemilihan langsung, tapi pemilihan itu serempak. Jadi bupati/walikota dikembalikan pada metode yang lama, dipilih DPRD agar tidak menimbulkan bising politik dan menelan biaya yang tinggi. Itu saya kira lebih efektif. Namun, ini juga harus dilakukan oleh pemerintah pusat secara berani, meski mengorbankan ketidakpopuleran mereka.

Seharusnya apa yang menjadi fokus bagi pemerintah saat ini?

Soal yang menjadi pokus bagi kita sekarang sebenarnya tetap pada persoalan ekonomi. Tapi persoalan ekonomi terkait dengan persoalan non-ekonomi juga. Jadi, ekonomi bisa berkembang dengan tiga faktor ada; ada insvestasi, ada konsumsi, dan manajemen. Tapi investasi sulit sekali jalan karena situasi belum kondusif. Antara lain masalah otonomi ini juga menjadi satu masalah ganjalan bagi investasi.

Di samping itu juga adalah proses kelambanan dalam memberikan satu servis pelayanan investasi ini karena banyaknya kepentingan yang bermain di balik semua itu. Sudah saatnya ada suatu penyehatan yang lebih tegas, lebih jelas membuat investasi kita lebih kompetitif. Oleh karena, investasi ini bisa datang dari luar bisa dari dalam. Tapi dari dalam juga bisa keluar. Banyak investor kita menanamkan modalnya ke Vietnam, Dubai, atau di Tiongkok daripada di dalam negeri.

Kenapa demikian?

Ya, karena memang ada persoalan-persoalan internal kita, di samping kelambanan, banyaknya lika-liku yang harus dilalui dan pajak yang sangat tinggi. Jadi pajak kita itu sangat tinggi bila dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Sehingga pajak yang sangat tinggi tidak membuat orang kondusif untuk melakukan investasi.

Seperti apa?

Misalnya, perusahaan jasa. Pertama, kalau kita jadi eksekutif diperusahaan jasa itu dapat gaji sudah dapat PPh. Sudah itu dihitung lagi komulatif, kalau gajinya satu bulan Rp50 juta, berarti satu tahun gajinya Rp600 juta sudah dapat potongan 30 persen. Dihitung-hitung, jadinya 70 persen dan itu membuat orang agak enggan.

Makin tinggi pajak, makin enggan orang melakukan ivestasi dan makin besar kecenderungan orang untuk melakukan manipulasi pajak. Kalau pajak itu lebih simpel, lebih sederhana, kemungkinan juga orang membayar pajak lebih banyak, lebih tinggi, dan kecenderungan orang akan melakukan investasi lebih besar. Sekarang orang menanam investasi di Dubai dikenakan pajak satu kali, besar kecil perusahaan tidak peduli. Soal lain adalah masalah konsumsi. Jika konsumsi meningkat maka secara otomatis
income kita juga akan naik.

Selain masalah tersebut, menurut Anda yang paling mendesak untuk segera dilakukan?

Masalah berat yang kita hadapi adalah masalah subsidi. Subsidi ini di mana masih dilakukan. Malaysia saja masih melakukan subsidi utama pada Bahan Bakar Minyak (BBM), bahkan beras pun dengan jenis tertentu juga disubsidi agar rakyat bisa beli.Kalau sekiranya ada penurunan harga minyak ini walaupun sekarang berat.

Jadi siapapun yang jadi presiden memang tidak punya pilihan kecuali mengurangi subsisdi. Itupun dikurangi 28 persen. Dampak implasinya sekira 12 persen dan berapa persen orang miskin yang muncul tiba-tiba itu sudah bisa diprediksi. Tetapi memang pengalihan subsidi itu dalam bentuk apa. Sekarang ini dalam bentuk BLT.

Tapi saya melihat ke depan subsidi lebih mengarah pada kelompok masyarakat lemah, utamanya petani dan nelayan. Hanya saja, subsidinya seperti apa. Kalau menurut saya jangan pupuk diberikan pada petani, tapi subsidi program. Hal itu akan mendorong orang untuk bekerja. Ambillah dua komoditi seperti beras dan kedelai. Caranya pemerintah mengaktifkan kembali KUD-KUD yang ada dan membeli hasil panen petani.

Pada Pilpres 2009 mendatang beberapa calon telah melakukan sosialisasi awal. Tapi, Anda malah sibuk dengan proses pembuatan film Laksamana Cheng Ho. Apa ini sebuah manuver politik?

Proses film itu sebenarnya sudah selesai. Rencananya, akan disiarkan oleh Metro TV atas keinginan Surya Paloh sendiri pada bulan Agustus hingga Maret 2009 mendatang. Kalau dikatakan ini adalah jalur kampanye, kan yang usulkan untuk disiarkan adalah pemilik televisi yang notabene adalah ketua dewan pimpinan Partai Golkar yang punya inisiatif untuk disiarkan.

Kalau dinilai ada kolusi antara Ketua Dewan Syuro PBB, yah wallahualam. Namun sebenarnya politik dengan dunia peran saling terkait. Ada orang yang sepenuhnya aktor lalu populer dan terpilih menjadi seorang politisi. Tapi negara berkembang seperti kita ini, pemain film yang poluler lalu penjadi politisi, saya kira agak susah juga. Kalau saya menempuh cara sebaliknya, saat masih muda sering main drama.

Namun setelah satu tahun, saya pikir masa depan tidak akan cerah. Cukup lama sebenarnya meninggalkan dunia peran hingga akhirnya ada tawaran untuk memerankan film Laksamana Cheng Ho. Jika ini ada dampaknya pada pemilu saya juga tidak bisa memprediksikan. Mungkin akan ada tapi sejauh mana besarnya sekali lagi saya belum tahu. Tapi film ini bisa dipakai untuk kumpul-kumpulkan orang banyak, ya kalau orang menyebutnya sebagai ajang kampanye. (*)

[makassar, 26 May 2008]

EKSLUSIVE INTERVIEW [satu]


Sandeq Race Butuh Perhatian Semua Pihak


Pagelaran Sandeq Race tahun 2007 kembali akan digelar 17 Agustus. Namun, pelaksana even yang bertujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya bahari lokal tersebut masih dibelit beberapa persoalan.

Antara lain masih seretnya dukungan anggaran, plus kurangnya perhatian pemerintah daerah. Bagaimana pihak penyelenggara menyikapi hal tersebut? Apa komentar mereka tentang dukungan pemerintah dan sejauhmana even tersebut memberikan kontribusi terhadap apresiasi bahari di Sulawesi?

Lalu, apa target yang akan dicapai dalam even tahun ini? Berikut petikan wawancara eksklusif wartawan Harian Fajar, ABDUL RAHMAN dengan pengurus Forum Lopi sandeq, Horst H Liebner di redaksi Fajar, Rabu 1 Agustus.

Tahun ini Sandeq Race kembali akan digelar. Bagaimana kesiapan pihak penyelenggara?


Sampai saat ini kami telah melakukan berbagai hal menyangkut pagelaran mendatang. Administrasi peserta yang sudah rampung dan beberapa kendala teknis lainnya seperti layar, sudah tidak ada masalah. Sudah kami siapkan, tinggal dipakai saja.

Kenapa mesti panitia yang menyiapkan layarnya?

Karena lomba Sandeq ini tidak memungut biaya pendaftaran. Kami bahkan menyiapkan kompensasi tersendiri kepada peserta sebagai biaya ganti rugi selama tidak melaut karena ikut Sandeq Race ini.

Dari sisi peserta, adakah peningkatan dibanding tahun lalu?

Sejak pertama kali dilombakan tahun 1995 lalu, pesertanya terus meningkat. Kalau tahun lalu pesertanya hanya 48, maka untuk kali ini sudah 53 peserta yang menyatakan kesiapannya bertanding.

Apa yang dapat dilihat dan dirasakan, baik tim penyelenggara maupun masyarakat, dari lomba ini?

Salah satunya adalah Sandeq tidak punah. Seandainya saja lomba ini tidak diadakan, boleh jadi perahu Sandeq sudah lama ditinggalkan. Hal ini bukan hanya saya yang mengatakan, akan tetapi sudah menjadi pendapat umum, baik oleh pengamat di daerah maupun pemilik perahu Sandeq sendiri.

Untuk diketahui, sejak dua tahun terakhir, para nelayan Mandar sudah tidak lagi menggunakan perahu Sandeq. Dan memang, fakta menunjukkan bahwa baik di Sulsel maupun di Sulbar, perahu layar sudah ditinggalkan untuk pelayaran jarak jauh. Pada umumnya nelayan di daerah ini menggunakan atau beralih ke kapal bermesin.

Apa kelebihan atau nilai tersendiri dari Sandeq sehingga Anda begitu antusias menggelar even ini?

Hanya satu, jangan sampai Sandeq hilang di komunitasnya. Perlu diketahui, proses pembelajaran untuk menjadi pelaut yang ulung jauh lebih efektif di atas kapal layar ketimbang kapal bermesin.

Jika Sandeq hilang maka ada bahayanya adalah keterampilan yang didapat dari kapal layar juga akan ikut menghilang. Dengan mempertahankan Sandeq, saya kira proses belajar-mengajar menjadi pelaut ulung akan masih dan terus berlanjut.

Kembali ke rencana lomba, sejauh ini apa saja kendala yang dihadapi penyelenggara?

Di tahap awal, kami sempat mengalami persoalan pada besarnya animo masyarakat yang ingin ikut tapi tidak didukung oleh jumlah perahu. Di awal pendaftaran, itu ada 64 peserta yang mendaftarkan diri. Namun setelah diperiksa kelayakan Sandeq yang akan ikut lomba, ternyata hanya 53 Sandeq saja yang laik.

Ada lagi yang lain?

Kendala utama kami adalah masalah klasik, yaitu soal terbatasnya anggaran. Pada kasus ini, saya melihat satu fenomena kurang bagus di mana pengusaha di Sulawesi ini sangat kurang apresiatif pada kegiatan ini. Bahkan yang sangat ironi, ada bank terkemuka di Sulawesi sini yang dengan bangganya memasang perahu dan foto-foto lomba Sandeq Race dalam kalendernya, tapi ketika tawari untuk menjadi sponsor, mereka malah menolak. Tidak lucu kan?

Lalu, siapa-siapa saja yang mensupport Sandeq Race ini?

Ini yang benar-benar ironi. Justru yang pertama kali bersedia menjadi sponsor kami adalah pihak luar negeri, Australia. Sama seperti tahun lalu. Mereka lebih dahulu merespons kegiatan ini dibanding dengan orang di Indonesia khususnya di Sulawesi ini. Padahal, Sandeq Race ini kan bertujuan mempertahankan tradisi Sulawesi. Saya juga cukup heran, kok orang asing yang harus bekerja supaya tradisi di Sulawesi dapat dipertahankan.

Syukurlah, Sandeq Race ini juga banyak mendapat dukungan dari pejabat-pejabat teras di Sulbar dan Walikota Makassar. Saya kira tanpa dukungan mereka lomba tahun lalu dan tahun ini tidak akan berjalan maksimal. Dan saya rasa, mereka juga mengharapkan agar orang-orang yang berkecimpung di dunia usaha di Sulawesi juga turut berpartisipasi untuk memperlihatkan kecintaannya pada budaya Sulawesi.

Hal lain, adakah penampilan atau kemasan berbeda pada pelaksanaan Sandeq Race kali ini?

Saya kira tetap sama dengan tahun lalu. Setiap peserta akan diberikan bendera merah putih untuk dipasang di perahu masing-masing sebagai tanda dan sikap nasionalisme para peserta. Suatu hal yang sejak Sandeq Race pertama kali digelar tahun 1995 lalu, sudah kami terapkan.

Selain itu, tahun ini juga diberlakukan lomba segi tiga di tiga tempat, yakni di Majene, Polewali, dan SumpangbinangaE dengan tujuan memberi kesempatan kepada peserta untuk melakukan perbaikan atas kerusakan yang dialami pada etape-etape sebelumnya.

Dari sisi sambutan masyarakat, bagaimana?

Sambutan dari masyarakat sangatlah heboh. Mereka mulai mempersiapkan seluruh kelengkapan dalam menyambut peserta lomba.

Harus kami akui bahwa kemauan nelayan Mandar dalam mengikuti lomba ini tidak bisa dikalahkan oleh para peserta lomba formula satu. Mereka begitu antusias. Bahkan anak-anak gadispun mengetahui nama-nama perahu lomba, nama pengemudi lomba dan berapa rangking dari keseluruhan peserta. Itulah indikasi yang dapat dilihat betapa antusiasnya mereka dengan ajang ini.

Kenapa Sandeq Race ini tidak dijadikan saja sebagai kegiatan rutin atau dimasukkan dalam kalender even Pemda Sulsel atau Pemda Sulbar?

Saya sebenarnya mempunyai harapan besar, pada suatu saat nanti pemerintah yang langsung mengadakannya. Tapi kalau mau jujur, kegiatan ini sesungguhnya juga sudah menjadi acara rutin. Masalahnya, ketika penyelenggaraannya diserahkan ke Pemda, rutinitasnya terpotong. Ya, setiap kali pengelolaan diserahkan ke jajaran pemerintah, mereka yang ditugaskan untuk mengelolanya tidak begitu peduli. Mereka kurang inovatif dan cenderung stagnan. Makanya pada tahun 2006 kami diminta oleh Menpora untuk mengambil alih acara ini.

Tadi Anda menyebutkan bahwa peserta kali ini mencapai 53 perahu. Apa itu tidak akan menyulitkan koordinasi di tingkat panitia?

Salah satu kesulitan kami adalah susahnya komunikasi antarpanitia. Dengan 53 perahu, panjang garis startnya akan mencapai 1,5 km. Jelas ini membutuhkan dukungan teknologi komunikasi. Tahun lalu kami pelajari biaya komunikasi amat tinggi sehingga untuk tahun ini kami akan menggunakan alat telekomunikasi berupa Handy Talk (HT) sebanyak mungkin.

Yang lainnya adalah kualitas pencetakan layar. Itu lagi sangat berhubungan dengan adanya sponsor. Kalau sponsor datang tiga hari sebelum lomba dan minta gambar yang rumit, dengan ukuran layar puluhan meter, tentunya akan sulit sekali.

Harapan Anda pada pelaksanaan Sandeq Race kali ini?

Lomba Sandeq Race ini janganlah dianggap atau dijadikan ajang mencari keuntungan. Tapi, jadikanlah sebagai media mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang sangat berharga di Sulawesi ini. Karena itu, Sandeq Race ini butuh perhatian dari semua pihak yang menginginkan budaya nenek moyangnya dapat eksis.

Selain itu, mudah-mudahan dengan tampilnya Pemprov Sulbar sebagai penyelenggara utama lomba Sandeq Race dapat mandiri dan lebih bernilai, baik dari segi organisasi hingga masyarakat umum tahu dan paham tentang budaya ini.(parisabdi@yahoo.co.id)

[makassar, 3 August 2007]

Sebagian Fakultas Sekadar Ganti “Kulit” [2-habis]


ISTILAH penyambutan maba boleh saja berubah nama dari Ospek menjadi PMB. Namun, kemasan di lapangan masih menawarkan produk lama.

****

MATAHARI belum sempurna betul mengintip dari tirai awan timur. Serombongan wajah-wajah lugu terlihat tergesa-gesa menuju ke kampus UNM Parangtambung. Dari aksesoris yang dikenakan, jelas mereka itu mahasiswa baru yang telah resmi menjalani prosesi PMB.

Beraneka ragam aksesoris yang mereka kenakan. Ada yang mengenakan pakaian seragam berwarna ungu kombinasi ikat kepala ungu. Selain itu, ada pula yang mengenakan baju kemeja lengan panjang warna biru. Tas dari karung terigu yang juga berwarna biru.

Untuk maba lelaki, kepala mereka ada yang sudah terlihat plontos. Bagi maba perempuan, diperkenankan mengikat rambutnya dengn pita berbagai warna.

Ritual tahunan penyambutan maba setiap tahunnya memang tidak terlepas dari peragaan pernak-pernik itu. Meski, nama prosesi telah diubah, namun perlakuan dan pelaksanaan tetap menampilkan gaya lama.

Indikasi kekerasan masih kerap terlihat diperagakan. Maba masih dilatih dengan gaya “militer”. Mulai dari jalan jongkok hingga push up. Pantauan Fajar di beberapa fakultas kemarin, beberapa panitia pelaksana saling berebutan aktualisasi di hadapan yuniornya.

Hal lain yang tak pernah absen adalah desas-desus pungutan liar (pungli). Praktik ini bukan lagi barang langka. Padahal, sejak awal pihak birokrat kampus sudah menampiknya.

“PMB di UNM tidak ada kekerasan dan pungutan liar,” kilah Pembantu Rektor III UNM, Prof Dr Hamsu Gani.

Kendati praktik kekerasan masih kerap dipertontonkan, namun dari tahun ke tahun hal tersebut mulai diminimalisir. Beberapa fakultas yang tidak memberikan kewenangan penuh kepada mahasiswa menangani prosesi PMB, telah mampu meredam tindak kekerasan tersebut.

Salah satu contonhya adalah Fakultas Teknik (FT). Untuk kali pertama, pimpinan fakultas eksakta ini memilih menggelar PMB dalam bentuk pesantren mahasiswa di luar kota. Selasa kemarin, sekira 400 mahasiswa baru FT diarak menuju Padang Lampe, di Pangkep, untuk menerima siraman materi berorientasi akademik-religius.

“Kita memberikan pencerahan rohani kepada maba Teknik agar mampu menyatu dengan kondisi kampus nantinya,” ujar Dekan FT, Aminuddin Bakri.

Dari kegiatan ini, Aminuddin berharap konflik yang kerap melibatkan fakultas binaannya pelan tapi pasti dapat dihilangkan. “Ini memang bukan jaminan, tapi saya yakin mampu meminimalisir,” tegasnya.

Pada akhirnya, kerinduan penerimaan maba yang lebih akademik di setiap kampus sangat dirindukan saat ini. Sebab membentuk watak seseorang dengan tindak kekerasan, berpeluang besar melahirkan embrio kekerasan gaya baru di dalam dunia kampus. (*)

[makassar, 29 August 200]

Simbol Menyeramkan Itu Masih Mendominasi [1]


MESTIKAH mahasiswa baru (maba) disambut dengan peragaan yang menakutkan? Apa substansi yang ingin dicapai oleh panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun ini?

****

PERTANYAAN itu dilontarkan Muhajir, sesaat setelah Fajar menyapanya, Senin 27 Agustus. Lelaki berusia 40 tahun ini adalah salah satu orangtua mahasiswa baru di UNM. Ayah dari dua anak itu terkesima di pintu gerbang Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Makassar (FBS UNM), Senin 27 Agustus.

Ia berdiri mematung, mendongakkan kepala menatap gerbang pintu itu.
Ia termangu memandang sebuah baligo tiga dimensi dengan patung mummy sedang bersujud. Kedua tangannya yang panjang dalam posisi mencengkeram. Kepalanya mendongak keluar, memamerkan gigi-giginya yang runcing, memerah.

Di tempat itu, setiap orang yang hendak memasuki kampus FBS UNM, bakal disambut dengan baligo tersebut. Tertulis jelas di papan baligo itu, FEMA (Federasi Mahasiswa) FBS UNM. Di sebelah kanan dan kiri, mengapit dua umbul-umbul warna hitam dengan tulisan Totaliter 2007, berwarna ungu.

Bukan hanya Muhajir yang mengalami hal yang sama. Setiap orang yang melintasi pintu kampus itu, bakal menghentikan langkahnya, sekadar menatap sajian panitia penerimaan mahasiswa baru di fakultas “ungu” tersebut.

Tahun ini, fungsionaris mahasiswa FBS mengusung tema Totaliter sebagai branding PMB. Totaliter adalah akronim dari Transformasi Dialegtis, Intelektual dengan Cinta dan Religius.
Nyaris di semua universitas di Makassar, trend penamaan PMB menjamur setiap tahunnya. Di FBS sendiri, penamaan PMB selalu melakukan penyesuaian.


Dalam tujuh tahun terakhir, nama-nama yang pernah dipakai adalah Suntik, Strategi, Proletar, Manifesto, Violeta, dan Praksis. Fungsionaris mahasiswa FBS menyakini, setiap penamaan PMB bakal berdampak pada corak dan karakter ideologi yang akan diusungnya, untuk menjadi doktrin kepada mahasiswa baru.

“Totaliter mempunyai makna gerakan mahasiswa secara menyeluruh di kampus ini,” terang Presiden Mahasiswa FBS, Arsal Arif.

Menurut mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia ini, perjuangan dan gerakan mahasiswa tidak akan mumpuni tanpa dilandasi prinsip yang total. Karena itulah maka momen penyambutan maba tahun ini, prinsip itu lebih dini ditanamkan.

“Rapuhnya gerakan mahasiswa saat ini disebabkan tidak tuntasnya melakukan pengawalan,” kilah mahasiswa eksponen Proletar 2003 ini.

Seiring dengan perubahan penamaan, satu hal yang tidak pernah berubah di fakultas ini adalah memunculkan penyimbolan yang terkesan menyeramkan. Salah satu simbol yang tidak pernah absen adalah replika mummy. Setiap tahun, hanya bentuknya yang terus mendapatkan gubahan kreasi.

"Di FBS, replika mummy tidak dianggap menyeramkan. Akan tetapi, sebuah hasil kreasi dari tangan-tangan lincah mahasiswa Seni Rupa,” tepis Arsal.

Mengapa mengambil mummy sebagai simbol idola? Arsal berpendapat, mummy mempunyai karakter yang kekal dan abadi. Ia adalah benda yang tidak lapuk sampai kapan pun. Mummy, menurut Arsal, melambangkan sebuah nilai kebudayaan dan seni yang tidak pernah keropos termakan zaman. Dengan dasar tersebut, karakter mummy mempunyai filosofi tersendiri bagi keberlangsungan lembaga kemahasiswaan di UNM.

“Lembaga di FBS diharapkan berjaya sepanjang masa untuk mengawal perjalanan kemahasiswaan di UNM,” tekad Arsal.

Bukanya hanya di FBS, aksesoris penyambutan mahasiswa baru yang terkesan menyeramkan juga terlihat di Fakultas MIPA. Di pintu gerbang fakultas percontohan tersebut, terpampang gambar baligo mahluk yang menyeramkan. Pemandangan yang sama juga dapat dijumpai di dua titik kampus UNM, yakni Gunungsari dan Bantabantaeng.*

[makassar, 28 August 2007]

Waria, yang Terancam "Terusir" dengan Revitalisasi Lapangan Karebosi (2-selesai)

Prorevitalisasi Minta Lokalisasi

Berat beranjak dari lokasi "persemayaman". Demikian yang dirasakan para lelaki yang merasa bisa berubah wujud jadi perempuan ini.
****

BUNDA Lin tampak sedikit lelah. Rambut lurusnya terlihat tidak beraturan tertiup angin malam. Sorotan lampu jalan yang menembus celah daun membuat raut muka "wanita" ini tampak putih bersinar.

Gayanya yang kemayu dapat memancing dugaan awal. Sesaat, sosoknya mampu mengecoh siapa saja yang melihatnya. Dari style dan pembawaannya, Bunda Lin telah sempurna menjadi "wanita" idaman. Sangat feminis.

Bunda Lin yang berusia 36 tahun itu sangat komunikatif. Dengan sikapnya yang ramah ia menyapa semua anak buahnya yang telah lebih dahulu tiba. Tanpa terkecuali kepada penulis.
Sesekali Bunda Lin mencoba menyentuh beberapa bagian sensitif tubuh penulis. Ia begitu "agresif". Tak lupa ia mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. Tentu dibarengi dengan gaya adegan "panas" yang gemulai.

Suasana cair memulai perjumpaan penulis dengan Bunda Lin. Ia bercerita, lebih suka menggeluti kehidupan malamnya itu. Toh, ia dapat mengumpulkan uang banyak dengan aktivitasnya.
Kendati itu, Bunda Lin punya profesi lain. Sebagai penyanyi panggilan. "Saya ini entertainer lepas. Di mana-mana saya dipanggil manggung,'' tuturnya halus.

Berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK), Bunda Lin tidak merasa risih. Bukannya tidak ada profesi lain. Namun, akunya, hal itu telah menjadi bagian dari kehidupannya.
Ia mencontohkan Yolanda dan beberapa rekannya yang lain. Menurut Bunda Lin, anak buahnya masing-masing mempunyai keahlian tersendiri. Ia mencontohkan, beberapa di antara mereka membuka jasa layanan salon dan menjahit.

Awalnya, Bunda Lin enggan berkomentar tentang revitalisasi Lapangan Karebosi. Ia lebih memilih penulis membicarakan tentang kehidupan waria. "Kalau mau dalami kehidupan waria Anda harus rasakan dulu pelayanannya," tuturnya menawarkan pada penulis.
Namun, setelah didesak, ia akhirnya buka mulut. "Kami sebenarnya berat untuk mendukung. Tapi, mau apa lagi. Kami hanya menurut saja keinginan pemerintah kota," ujarnya sambil memainkan tombol handphone (HP) yang menggantung di lehernya.

Meski ia mengaku rencana itu merugikan komunitas waria. Namun dirinya meyakini pembangunan tersebut bakal menguntungkan semua pihak, termasuk mereka. "Sebagai warga kota yang baik, revitalisasi itu tidak usah kami tolak," tukasnya.

Alasannya, dengan revitalisasi tersebut Karebosi akan semakin indah dan bakal didatangi banyak orang. Otomatis para waria berpeluang besar menggaet pelanggan yang banyak. Banyaknya pelanggan membuat mereka dapat meraup untung melimpah.

Bunda Lin sedikit menggeser tempat duduknya. HP di tangannya terus dimainkan. Sesekali mulutnya melantunkan nyanyian singkat. Tiap liriknya diikuti goyangan dari beberapa anak buahnya. Salah satu lagu yang dibawakan malam itu adalah Kucing Garong. Katanya, lagu tersebut tak pernah absen dilantunkan setiap kali konser.

"Yang pasti kami juga meminta agar pemerintah juga pro dengan kami. Setidaknya mereka membuatkan lokalisasi untuk persinggahan tetap,'' pinta Bunda Lin.

Lokalisasi itu, menurutnya, turut membantu penataan Karebosi yang lebih baik. Pasalnya, mereka mengaku tidak akan berkeliaran di mana-mana jika telah disiapkan tempat. "Mengapa banyak rekan kami yang keluar, karena tidak ada basecamp buat kami," terangnya.

Tak terasa perbincangan dengan Bunda Lin telah berlangsung lama. Malah menurutnya, penulis telah menyita waktunya sehingga beberapa pelanggannya lepas begitu saja.

Dengan bahasa yang halus ia berusaha mengakhir perbincangan itu. "Besok malam kita ketamu lagi di tempat ini yah..!," ucapnya sambil berlalu menemui rekan-rekannya yang lain. Tidak lupa ia berikan nomor HP-nya pada penulis. (*)

[makassar, 24 October 2007]

Kamis, 20 November 2008

Aktivitas Waria, Terancam "Terusir" dengan Revitalisasi Karebosi (1)

"Kampus" Ditutup, Meluber di Jalanan

Semua berjalan seperti biasa. Tidak ada hal yang istimewa. Mereka tetap "genit' menyambut tamu-tamunya. Tak terkecuali pada saat penulis menyambangi mereka, Minggu 21 Oktober.
****

GUMPALAN asap rokok mengepul dari bibirnya yang "seksi". Sebuah tas hitam tergantung bebas di bahunya. Sesekali jari lentiknya menyapa lalu lalang pengguna jalan. Dia mengaku akrab dipanggil Yolanda.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang sesama jenis terlibat percakapan dengan seorang lelaki bertubuh bongsor. Beberapa saat kemudian mereka pamit.

"Aku duluan yah...!," ujarnya. Oleh rekan-rekannya, ia disapa Sinta Fitri. Bibirnya mengulum senyum mesra di balik deru knalpot motor yang dinaikinya.

"Selamat malam, Mas!," sapa Yolanda saat penulis menghampirinya. Sedikit basa-basi, namun penuh "aksi".

Ia memilih duduk di pinggir trotoar Jl Sudirman samping Monumen Mandala Makassar. Jarum jam menunjuk angka 23.30 Wita.

Tak berama lama kemudian satu persatu rekan-rekan Yolanda berdatangan. Mereka langsung melebur bersama penulis. Sesekali tawa menggaung dari pita suaranya. Terdengar serak meski sedikit sumbang.

Bukan hanya Yolanda. Jejalan waria lainya menjamur di lokasi itu. Selama ini mereka lebih enjoy main kucing-kucingan. Kendati di depan Monumen Pembebasan Irian Barat itu bukan tempat asing bagi mereka. Hanya saja, mereka lebih memilih beraksi di sudut lapangan Karebosi.

Masalahnya, lapangan yang mereka namakan sebagai "kampus" tersebut bakal direvitalisasi. Sehingga tak ada pilihan lain bagi mereka untuk mencari "kampus" baru."Kami terpaksa bermain transparan," ujar Yolanda diamini rekan-rekannya yang lain.

Meluber di jalanan, diakui Yolanda, punya dampak tersendiri. Tamu-tamunya dominan enggan bertransaksi di lapangan terbuka. Imbasnya, penghasilan mereka turut berpengaruh. Meski demikian, mereka tetap santai menjalaninya.

"Kalau mereka butuh, kondisi apapun pasti dijalani," tukasnya polos.

Sejak lokasi mereka ditutup untuk kepentingan revitalisasi, praktis para waria ini memilih jalanan sebagai persinggahan. Di "kampus" terbuka ini, mereka mengaku sedikit kikuk.
Selain itu, di tempat ini mereka kerap mendapat gangguan dari beberapa pemuda yang melintas.


Tidak sedikit dari mereka yang dicibir dan menjadi bahan tertawaan.
Namun hal tersebut sudah akrab di telinga. Seperti halnya saat penulis sedang berbincang dengan mereka. Tiba-tiba sekelompok remaja dengan iring-iringan kendaraan bermotor melintas dan melontarkan ucapan yang menyinggung kehidupan mereka.

Bukan hanya itu, di tempat ini mereka juga mengaku tetap waspada dengan incaran dari razia petugas yang berwajib. Bahkan, tidak jarang dari mereka mengaku takut menampakkan diri di depan umum.

Hanya saja, tuntutan hidup memaksa mereka tak bisa berbuat apa-apa. "Kita hanya bisa improvisasi dengan para pelanggan," timpal Yolanda.

Satu hal yang menarik buat mereka adalah interaksi dengan dunia luar lebih terbuka. Di tempat
tersebut mereka lebih bebas memilih "pasangan". "Namun itu tadi, mereka risih bertransaksi," bebernya.

Menjadi waria bukanlah pilihan. Namun itulah konsekuensi hidup. Tempaan gaya kota metropolis membuat mereka tetap percaya diri tampil memeriahkan Makassar. Sekat mental yang dimiliki kian kuat kendati berada di manapun.

Sehingga tidak heran jika saat lapangan Karebosi direvitalisasi, mereka tak sepenuhnya patah semangat. Malah, menurut mereka, masih banyak tempat lain untuk tetap eksis.

Perbincangan dengan Yolanda terhenti sejenak. Sebuah sepeda motor terlihat datang menghampiri. Pengendaranya langsung memarkir motornya di bawah pohon samping Monumen Mandala. Sejenak Yolanda menyapanya dengan halus.

"Namanya Carolina. tapi kami biasa panggil Bunda Lin," ujar Yolanda memperkenalkan.
Sejurus kemudian Bunda Lin turut berbaur. "Saya agak telat karena baru pulang dari nyanyi," tukas Bunda Lin sembari mengerlipkan sebelah matanya. (bersambung)

[makassar, 23 October 2007]