skip to main |
skip to sidebar
Mak Coppong, Penari Istana hingga Keliling Dunia
PENGABDIAN tidak mengenal usia. Hal itulah yang dibuktikan oleh perempuan paruh baya ini. Dialah Coppong Dg Rannu, sang maestro tari tradisi asal Gowa, Sulawesi Selatan.
******
TIDAK ada yang istimewa saat penulis menyambangi kediaman Coppong Dg Rannu, 89, Kamis 17 Juni 2008. Perempuan tua yang akrab dipanggil Mak Coppong itu menghabiskan masa tuanya di sebuah dusun bernama Lompokiti, Desa Kampili, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Rumah panggung sederhana. Halaman cukup lapang. Bagian dinding rumah berlubang termakam rayap. Terali jendela terbuat dari batangan kayu. Nyaris patah, saat penulis mulai menaiki rumah yang memiliki teras berukuran sekira 3x2 meter itu.
Seisi ruangan rumah tanpa hiasan perabot yang mewah. Hanya terdapat sepasang kursi dan sebuah televisi berukuran 21 inchi yang dipasang pada sebuah lemari kayu di ruang tengah.
Meski tampak sederhana, namun bagian tengah rumah disekat menjadi empat kamar; dua sisi kiri, dua di sebelah kanan. Kamar didesain belahan-belahan bambu dicat kuning, itu tampak natural.
Persis suasana di luar rumah yang diapit dengan pepohonan yang rimbun. Di dinding kamar bergantung dua buah gitar listrik. Sudah lapuk. Beberapa bingkai foto dan piagam penghargaan dari empunya rumah, turut menjadi properti isi ruangan itu.
Di rumah inilah, Mak Coppong menghabiskan sisa usianya. Dilihat dari kondisi rumahnya, orang mungkin tidak percaya jika di tempat itu hidup seorang seniman besar yang dimiliki bangsa ini.
Mak Coppong telah mendapat pengakuan sebagai salah satu maestro tari tradisi Indonesia. Penghargaan tersebut ia terima dari presiden atas nama Menteri Kebudayaan pada tanggal 4 Juni 2008 lalu di Jakarta.
Mak Copong setia menari sejak zaman pendudukan Belanda. Awalnya, ia hanya mengaku ikut-ikutan menari setelah melihat seorang guru tari bernama Mosai Dg Ngola. Saat itu, Coppong kecil hanya ingin menggembirakan hati kedua orangtuanya. “Saya belajar tari saat usia sepuluh tahun. Saat itu, tidak ada aktivitas yang lain apalagi namanya pergi sekolah,” kenang Mak Coppong dalam bahasa Makassar.
Hanya saja, kebiasaan menari membuat hati Coppong mulai kecantol. Sedikit demi sedikit, ia mulai menekuni berbagai jenis tari, seperti Pakarena dan Salonreng. Saat itu, Coppong bersama dengan lima teman belianya, masing-masing almarhum Tija, Mini’, Sawa’, Tonjong, dan Dg Kobo mulai merintis tarian tradisi. “Kami setiap hari belajar menari. Sejak dahulu guru kami mengatakan jika tarian Pakarena hanya bisa dibawakan oleh enam orang,” urai Mak Coppong yang mengaku tidak tahu mengapa hanya enam orang yang membawakan tarian itu.
Mak Coppong pertama kali menari di Istana Balla Lompoa. Ibu tiga anak itu mengaku tidak pernah melupakan kenangan tersebut. Bahkan, pada acara istana yang dihadirinya ia kerap menari hingga menjelang subuh.
Hal itu bisa dilakukan hingga tiga malam berturut-turut. Mak Coppong menari dengan menggunakan rasa. Dirinya yang buta huruf hanya bisa memperkiraan durasi waktu yang diberikan.
Aktivitas menari Mak Coppong mulai terganggu pada tahun 1960. Saat itu, kelompok pasukan DI/TII mengeluarkan instruksi agar aktivitas tarian dihentikan. Pasalnya, kegiatan itu dinilai bertentangan dengan agama Islam.
Bersama dengan suaminya, Alm Manyerang Dg Serang, Mak Coppong menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga. “Karena kita takut, terpaksa saya dan teman-teman berhenti total. Untuk latihan pun kami sangat ketakutan,” kenangnya.
Pada tahun 1977, setelah sistem pemerintahan telah beralih dari sistem kerajaan, Mak Coppong kembali bangun dari “tidur panjangnya”. Kali ini, Mak Coppong resmi berpisah dengan rekan-rekannya.
Dengan tekadnya yang bulat, ia mulai mengumpulkan beberapa perempuan untuk diajar menari. Saat ini, boleh dikata, dari enam penari tradisional Makassar, tinggal Mak Coppong yang tersisa dan eksis untuk menghidupkan kekayaan daerah ini.
Sedangkan lima orang sahabatnya -- satu orang telah meninggal -- memilih berhenti menjadi penari.
“Katanya mereka malu, apalagi usianya sudah tua semua,” ucapnya.
Pakkarena adalah tarian khas Makassar kuno yang kerap ditampilkan di dalam istana raja-raja Gowa. Jenis tarian ini menurut Mak Coppong, mencapai 12 tarian. Jenisnya adalah Sambori’na, Mabbiring Kassi, Sonayya, Lambassari, Digandang, Jangan Lea-lea, Yolle atau tari raja, Angka Malino, Lekoboddong, Anni-anni, Biseang I Lau, dan Sanro Beja.
Proses tarian Mak Copong mulai diapresiasi masyarakat dunia setelah bergabung dengan Sanggar Batara Gowa. Mak Coppong menjadi “selebritis” tari yang pentas di mana-mana. Ia banyak diundang ke berbagai kota, provinsi, dan negara.
Puncaknya, ketika ia ikut tergabung dalam pementasan naskah I Lagaligo dari tahun 2002-2006 di Asia, Eropa, dan Amerika. Sejibun penghargaan pun melekat pada diri Mak Coppong.
Di antaranya, Anugerah Seni dari Dinas Pariwisata Sulsel tahun 2000 dan Penghargaan dari Menteri Pariwisata Seni dan Budaya RI tahun 1999. Terakhir dinobatkan sebagai maestro tari tradisi asal Sulsel.
Meski mendapat predikat itu, Mak Coppong tak pernah merasa “puas”. Dalam usianya yang kian uzur, nenek dari 8 cucu ini masih terus menari. Untuk mempertahankan tradisi itu, ia mengajak seluruh keluarga, anak, kemenakan, dan cucu-cucunya untuk menari.
Meski diakui tidak ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Gowa terhadap dirinya, namun kondisi tersebut tidak menjadi penghambat. Sebab dalam hatinya, Mak Coppong mengaku kekayaan yang dimiliknya sekarang tak ternilai dengan materi apa pun. (bersambung)
Cemoohan Berbuah Penghargaan “Jika kamu tidak mau belajar menari dan menjadi penari, maka tidak ada lagi penerus yang jadi penari di keluarga kita. Kita akan kehilangan jati diri keluarga.” *****
Pesan itu masih terngiang jelas di telinga Mak Coppong. Berkat hal itu pula, membuatnya tetap tegar menekuni “dunia” satu ini hingga di usianya yang memasuki fase uzur.
Bagi Mak Coppong, menari merupakan panggilan jiwa dan rasa. Sedangkan mengajar menari adalah tanggung jawab melestarikan budaya. Sempat vakum lantaran dilarang, pada tahun 1977 Mak Copong bangun dari “tidur panjangnya”. Sistem pemerintahan saat itu juga telah beralih dari sistem kerajaan. Hanya saja, kali ini Mak Coppong harus berjuang sendiri.
Tapi dengan tekad bulat, diapun melangkah maju. Baginya, maju sendiri atau kolektif, sama saja. Yang penting bersungguh-sungguh, pasti akan menuai hasil maksimal.
Berbekal keyakinan itu, Mak Coppong pun mulai mengumpulkan beberapa perempuan belia untuk diajar menari. Kala itu, nyaris semua orang memandang profesi Mak Copong tidak menjanjikan dalam hal materi. Dan yang lebih menyakitkan sekaligus menjadi pelecut semangat, dia kerap dipandang sebagai wanita murahan. Dicap sebagai perempuan tidak terhormat. “Namun saya tidak peduli dengan semua itu. Yang penting saya dipanggil untuk menghibur, saya akan menghargai panggilan itu,” ucapnya datar.
Hasilnya, Mak Copong berhasil membuka pikiran dan hati sebagian masyarakat yang sebelumnya sering mencemoohnya. Dia bahkan berhasil memperlihatkan eksistensinya sebagai penari primadona dan masuk dalam deretan penari berkelas tanah air. Saat ini boleh dikata, dari enam penari tradisional Makassar, tinggal dia seorang yang tersisa dan tetap eksis menghidupkan khazanah budaya nusantara. Lima orang sahabatnya -- satu orang telah meninggal-- memilih berhenti menjadi penari dan menekuni dunia baru.
“Katanya mereka malu. Apalagi, usianya sudah tua semua. Sama seperti saya ini,” kata Mak Coppong mengenang rekan-rekan seprofesinya dulu.
Berkat “kepala batu” sekaligus “tebal muka”nya itu, Mak Coppong mampu mengangkat tarian tradisional Pakarena dengan 12 jenisnya – Sambori’na, Mabbiring Kassi, Sonayya, Lambassari, Digandang, Jangan Lea-lea, Yolle atau tari raja, Angka Malino, Lekoboddong, Anni-anni, Biseang I Lau, dan Sanro Beja-- menjadi terkenal ke seantero penjuru dunia.
Pelan tapi pasti, tarian Mak Copong mulai diapresiasi masyarakat dunia. Apalagi setelah dia setelah bergabung di Sanggar Batara Gowa. Mak Coppong pun berubah menjadi “selebriti” tari yang pentas di mana-mana.
Ia banyak diundang ke berbagai kota, provinsi, dan negara. Puncaknya, ketika ia ikut tergabung dalam pementasan naskah I Lagaligo dari tahun 2002-2006 di Asia, Eropa, dan Amerika.
Saat tampil di Eropa dan Amerika, Mak Coppong yang tetap lugu laiknya orang kampung, sempat menyedot perhatian penikmat tari tradisional. Maklum, dia tetap mampu mempertahankan “keasliannya“ sebagai penari tradisional; sederhana namun bersahaja.
Seiring dengan itu, sederet penghargaan pun berhasil diraiahnya. Antara lain Anugerah Seni dari Dinas Pariwisata Sulsel (2000), Penghargaan dari Menteri Pariwisata Seni dan Budaya RI (1999), serta yang terkini, dinobatkan sebagai maestro tari tradisi asal Sulsel.
Meski mendapat predikat itu, Mak Coppong tak pernah merasa puas. Di usianya yang kian uzur, nenek dari delapan cucu ini masih terus menari. Untuk mempertahankan tradisi itu, ia mengajak seluruh keluarga, anak, kemenakan, dan cucu-cucunya untuk menari.
Meski diakui tidak ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Gowa terhadap dirinya, namun hal itu tidak menjadi penghambat. Sebab dalam hati Mak Coppong tertanam satu tekad dan keyakinan bahwa “kekayaan” yang dimilikinya sekarang tak bisa dinilai dengan benda apapun. (bersambung)
Abdikan Hidup Lewat Tabuhan Gendang
SERANG Dakko, penabuh gendang papan atas di daerah ini. Bersama Mak Coppong, lelaki yang akrab disapa Dg Serang, itu juga dinobatkan sebagai maestro kesenian tradisional asal Sulawesi Selatan.
****
SUASANA areal rumah adat Benteng Somba Opu, sudah diselimuti keremangan. Bias cahaya matahari, hanya menyisakan rona jingga di ujung awan sebelah barat. Sebuah lampu jalan pun mulai menerangi bentangan pavinblok yang mengarah ke lokasi situs sejarah tersebut.
Tepat di depan Tongkonan,--rumah adat Tana Toraja--penulis menghentikan kendaraan. Di tempat, sebuah rumah panggung plus panggung pertunjukan tempat kediaman Dg Serang, maestro kesenian tradisional dengan instrumen gendang. Sebelumnya, penulis telah mengatur janji untuk bertemu dan mengutarakan perihal kedatangan. Saat ditemui, Dg Serang baru saja menunaikan salat magrib. Beberapa keluarganya, tampak berada di bagian belakang rumah. Mata penulis langsung tertuju pada deretan gendang berbagai ukuran yang berada di belakang kursi sofa milik tuan rumah.
Tanpa berbasa- basi, Dg Serang langsung membuka perbincangan setelah mengecilkan volume televisi 21 inci di ruang tamu.
“Gendang sudah menjadi teman hidup yang sangat akrab. Sangat banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan lewat alat musik tradisional ini,” ujar Dg Serang.Mata Dg Serang menerawang. Kisah masa lalu terputar kembali. Dilahirkan di Desa Kalaserena, Kabupaten Gowa pada 1939. Belajar menabuh gendang saat masa penjajahan Belanda. Usianya masih kanak-kanak, waktu itu.
Secara alami, bakat menabuh gendang diturunkan oleh bapaknya. Dg Parincing yang dikenal sangat iawai memainkan alat musik itu.
Aktivitas kesenian Dg Serang, terus berlanjut hingga awal kemerdekaan republik ini. Usianya yang memasuki masa remaja kala itu, dihabiskan ikut bersama rombongan ayahnya. Serang remaja, bahkan sudah dipercaya menjadi pengiring Tarian Pakarena yang kerap memenuhi undangan untuk acara pementasan.
“Setiap hari saya diingatkan oleh orangtua untuk serius berlatih menabuh gendang. Katanya, semakin lama berlatih maka aura gendang akan menyatu dengan penabuhnya,” kenang Dg Serang akan nasihat sang ayah.
Belajar secara otodidak, gigih dilakukan Dg Serang. Prinsipnya, tanpa pendidikan formal pun tabuhan gendang akan bisa dikuasai. Intinya telaten berlatih. Dan, benar saja. Dalam waktu beberapa tahun, ia sudah piawai memainkan alat musik khas Makassar itu.
Pada 1960-an, beberapa seniman Sulsel turut berlatih pada ayahnya. Salah satunya adalah Nani Sapada dan Paselleng. Pertemuan itulah yang membuat Dg Serang kian melejit dengan kariernya. Ia dipercaya menjadi pengiring tari-tari Nani Sapada dalam berbagai pertunjukan yang berskala besar.
“Waktu itulah saya mulai menginjakkan kaki di luar negeri. Saya tidak pernah membayangkan hal itu,” ujarnya polos.
Meski mengaku menyerahkan hidup dan matinya pada gendang, namun perasaan Dg Serang untuk berkeluarga selalu membara. Akhirnya, ia mempersunting seorang “bunga desa” bernama Dg Baji. Saat itu, usia Dg Serang menginjak angka 32 tahun.
Untuk menghidupi keluarganya, Dg Serang hanya berharap welas asih dari penduduk yang menggelar pesta pernikahan atau sunatan. Dari tabuhan gendang itu, ia mampu mencarikan nafkah bagi keluarga. “Kesenian telah membentuk saya untuk selalu gembira menghadapi kehidupan. Saya tidak pernah mengeluh dan menjalani hidup apa adanya,” tandasnya. Dari hasil perkawinannya dengan Dg Baji, Dg Serang dikarunia empat anak. Mereka, adalah Cece, Indrawati, Irwan, dan Arianto. Sayangnya, tak satupun dari keempat anaknya tersebut yang dilihat langsung oleh Dg Serang saat dilahirkan. Lagi-lagi, profesi menabuh gendang telah “merenggut”semuanya, meski itu hanya sekadar menemani istri tercinta menyabung nyawa saat melahirkan. Saat anak pertama dan kedua lahir, Dg Serang mengaku berada di Thailand dan Singapura. Sedangkan, pada saat anak ketiga dan keempatnya dilahirkan, master gendang ini sedang menggelar “konser” di Bali dan Jakarta. (bersambung)
Digelari Bapak Gendang Dunia, Diabaikan Tim I LagaligoPENGALAMAN menabuh gendang sejak kecil membawa Dg Serang melanglang buana ke luar negeri. Hasilnya, oleh orang-orang “asing” itu, dia dianugerahi gelar “Bapak Gendang Dunia”. Padahal, di negeri sendiri, dia pernah dicampakkan.
*****
Luar biasa! Kata itu yang terlintas dalam benak penulis saat bertemu Dg Serang. Betapa tidak, gendang telah menjadi “istri” pertama baginya. Boleh jadi, dalam pikiran Dg Serang, “bersetubuh” dengan gendang adalah kenikmatan yang tiada taranya.
Untung saja, Dg Baji, perempuan yang dinikahinya tidak pernah cemburu, meski harus “diduakan”. Sebaliknya, mampu memahami kehidupan suaminya. Dg Baji tetap tabah. Bahkan, tidak henti-hentinya memberikan support dan motivasi agar Dg Serang, sang suami tercinta, terus menekuni kariernya.
“Ia perlu dorongan dari keluarga dan di situlah peran saya sebagai pendamping hidupnya,” tutur Dg Baji.S
pirit itulah, Dg Serang bebas melakoni profesinya. Iapun mengakui dukungan keluarga modal terbesar menjaga “warisan” tersebut.Saat melawat ke beberapa negara, Dg Serang tampil memukau. Di Hongkong ia mengikuti pagelaran yang disebut Tunrung Rincing --sejenis rampak gendang-- yang diikuti para jawara gendang dari berbagai belahan dunia.
Di antaranya, India, Swiss. Di tempat ini, Dg Serang tampil all out. Kelihaiannya menabuh gendang mampu membuka “mata” dunia. Saat itulah pula ia langsung digelari “Bapak Gendang Dunia”.Mendapat gelar itu, Dg Serang bukannya berbangga hati. Menurutnya, pengakuan bukanlah akhir dari titian karier. Ia tidak butuh pengakuan. Namun butuh apresiasi seni tradisional perlu mendapat perhatian untuk terus dikembangkan.
Lagipula, meski mendapat pengakuan dunia, tidak memuluskan jalan Dg Serang di daerahnya sendiri. Hal itu terlihat saat adanya proyek pementasan naskah Sureq I Lagaligo di luar negeri.
Casting tim yang digelar penyelenggara tidak mampu meloloskan penabuh senior ini. Padahal, para penabuh yang diikutkan tak lain adalah “murid-muridnya”.
“Saya menghormati proses seleksi itu. Tak diikutkan di Lagaligo bukan berarti saya berhenti menabuh gendang,” ucap Dg Serang sambil mengusap wajah keriputnya.
Dg Serang menilai jika aktivitas kesenian di Makassar sudah tidak sehat lagi. Indikasi saling sikut kiri-kanan beberapa kali dipertontonkan pelaku kesenian. Bahkan, cenderung tidak memikirkan nasib dan pengembangan kesenian di Makassar.
Kelanjutan kesenian tradisional Dg Serang memasuki babak baru pada tahun 1991. Saat itu, pengelola Pembangunan “Taman Mini” Sulsel, Benteng Somba Opu, Dr Muchlis Paeni meminta dirinya menetap di lokasi itu. Selain mengembangkan kesenian, status Dg Serang juga bertambah sebagai tenaga keamanan.
Di tempat ini, ia lebih leluasa mengembangkan kreativitas seni, sekaligus melatih ilmu dan keterampilan kepada generasi muda yang ingin belajar. Setahun sebelumnya, ia mendirikan Sanggar Seni Alam.
Nama ini didasari atas personelnya yang terbentuk secara alamiah, tanpa melalui pendidikan formal. Di perkumpulannya yang baru ini, ia mengajar menabuh gendang dan tari klasik Pakarena.
Ia juga merangkul beberapa seniman tua untuk bergabung di sanggarnya. Alat gendang di rakit sendiri. Itu dilakukan agar bentuk dan ukuran gendang bisa sesuai dengan keinginan.
“Jika gendang tidak sesuai dengan ukuran badan, maka irama dan posisi saat menabuh akan jauh berbeda. Itu juga bisa membuat bagian tubuh sakit seusai pentas,” tuturnya.Lalu apa yang paling berkesan dalam hidup Dg serang? Ditanya demikian, Dg Serang menundukkan kepala. Sejenak ia mengisap rokok yang baru saja dibakarnya. “Saya tidak akan pernah lupa saat kunjungan ke Thailand. Di negeri ini saya dan beberapa seniman hampir meninggal,” ucapnya lirih.Sekiranya, lanjut Dg Serang, rombongan penabuh gendang dan penarih Pakarena tidak cepat meninggalkan Thailand, boleh jadi mereka tidak ditemukan lagi. Pasalnya, hanya sehari setelah meninggalkan negeri Gajah Putih itu, gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mengoyak wilayah penginapan rombongan asal Sulsel.“Saya lihat di televisi, hotel dan lokasi kami pementasan hancur disapu air laut. Saya bersyukur bisa selamat dari bencana menakutkan itu,” ungkapnya.
Luput dari maut itu, menjadikan Dg Serang memetik hikmahnya. Ia meyakini jika sang pencipta telah memberikan petunjuk untuk terus mengembangkan budaya tradisional Sulsel. Hal itulah yang membuat keikhlasannya mengabdikan hidup pada gendang, terus membukit.
Dinobatkannya Dg Serang sebagai maestro kesenian tradisional seakan melengkapi kesempurnaan kesenian Sulsel di Indonesia. Ketelatenan dan komitmen berkesenian membuahkan pengakuan. Dua tokoh daerah ini berhasil mengawinkan gelar maestro. Penari oleh Mak Coppong, dan penabuh gendang oleh Dg Serang. (parisabdi@yahoo.co.id)
INTERUPSI KEMALUAN*merdeka semakin terjebakke dalam simbolitas.Menyeret jatah hormat!melancipkantelunjuk pada alis:di jidat manusia.Padahal anak-anak kita,memburai ususnya! sendiri meletupkan! kemaluannyakemaluan! bukan lagi isi celana dalam*Kontol!* pada otak.========================================*ANJING menyalak* lagi kepada besokDi tubuh untuk *mencari kehendak*tentang kematian*KELAMIN DIJILATNYA**MENEMUI ATMOSFIR**KEMANJAAN SEMESTA**Jika kelamin* tidak lagi menjadi pembedaANJING KEMBALI MENYALAK*Mencair* jelaga matahari*Di air mata** **Anjing menyalak mencari kehendak**Jika kelamin mencair di air mata** *Jebakan makna mulai membohongi sejarahMenjajah waktu seperti kesetiaan tak menantiMendesak di rahim angin kemanjaan semestaTakdir pun menujum di akhir cahaya* **ANJING*==================================*SEBATANG ROKOK **BERASAP**PADA BIBIR VAGINA** *Nafasnya mengapung mengeksekusi kehidupanTelah dijualnya senyuman pada setiap dengkuranAku tidak tahu tentang manteraSeketika computer menjejali film pornoBermain tentang kecewa yang tersedak di dalam layar*/Sesaat ia berpaling memandang bingkai poto/**/Gambar yang menjejali seisi kamarnya/**/Poto yang biasa tampil di televisi/** **Dari acara selebritis untuk onaninya**Dari acara kenegaraan yang pun untuk onaninya**Dari berita juga untuk onaninya*=======================ONANIBokongnya mulai menujumkan sepiDari kilatan bedil ia menghitung karmaKesenyapan membusuk setiap kisah melankolisMenikam mimpi menusuk teriaknya mencaci nyaliDi balik lipatan kutangIa matiMAMPUS*VAGINA **MEMAKAN **OTAKKU*============Nursam Nurdin Matto, orang biasa yang tidak memiliki kehebatan apa-apa dibanding penulis puisi lainnya, hanya saja ia senang bikin puisi. Karya ini ditujukan kepada BENGKEL SASTRA BSID UNM, selamat ulang tahun.


Mereka Meregang Nyawa di Balik Seuntai Asa
Tak ada firasat apa-apa. Lelaki itu berlalu mengantongi secercah harapan.
OLEH: ABDUL RAHMAN
TAKALAR-GOWA
Perempuan tua itu belum berajak dari rumah panggung miliknya. Udara pagi masih menyelimuti kulitnya yang keriput. Tak ada aktivitas yang istimewa hari itu. Waktu menunjukkan sekira pukul 07.00 Wita. Hari itu, Sabtu 22 Nopember.
Dg Jipa, 55, nama wanita itu. Tubuhnya kurus. Tinggi sekira 156 cm. Ia memilih mondar-mandir di dapur. Sejurus kemudian, lamat-lamat namanya disebut. Ada yang mencari dirinya.
Mendengar namanya disebut, Dg Jipa bergegas menuruni tangga rumah. Sembari berjalan, rambutnya yang telah memutih dirapikan, diikat dengan karet.
Bergegas, ia menemui sesosok lelaki yang mendatangi rumahnya. Sedikit ragu, sebab tamu yang tak diundang itu tidak ia kenali. "Dg Nanring". Lelaki itu memperkenalkan dirinya. "Mukanya tidak terlalu tua, berpostur tubuh tinggi," tutur Dg Jipa, saat ditemui di kediamannya, Selasa 24 Nopember.
Sedikit bertanya dalam hati, Dg Jipa menyambut tamunya di kolong rumah. Keduanya berbincang di balai-balai bambu berukuran 4x3. Sebagian tiang penyanggah balai-balai mulai lapuk dikerumuni rayap.
Tanpa basa-basi, Dg Nanring memberitahukan perihal kedatangannya. Intinya, lelaki tersebut hendak mengundang pihak keluarga Dg Jipa membicarakan sengketa tanah yang berada di perbatasan antara Desa Towata dan Desa Tanakaraeng.
"Ia tidak lama. Setelah menyampaikan maksudnya ia langsung pergi," ujar Dg Jipa.
Beberapa saat setelah lelaki itu berlalu, Dg Jipa bergegas ke rumah anak mantunya, Haeruddin. Rumah Haeruddin hanya berjarak 20 meter dari rumahnya. Cukup dengan menyeberang jalan, Dg Jipa sudah tiba.
Tanpa ditanya, Dg Jipa lantas menyampaikan pesan lelaki yang menemuinya. Menurut Dg Jipa, warga Desa Tanakaraeng hendak mencari solusi penyelesaian lahan yang diklaim pihak lain. Waktu pertemuan dijadwalkan, Minggu 23 Nopember, pagi di lokasi lahan.
"Mendapat informasi itu, Haeruddin merasa lega. Apalagi, kasus itu sudah lama hendak dibicarakan secara kekeluargaan," kenang Dg Jipa.
Mendapat ajakan itu, Haeruddin memutuskan berkonsultasi dengan kepala Desa Towata, Hamka T Dg Naba. Selain itu, ia juga mengadukan perihal rencana pertemuan itu kepada Pembina Masyarakat (Binmas) dari Polsek Polongbangkeng Utara bernama, Ishak.
Sepanjang hari Sabtu itu, menurut Dg Jipa, Haeruddin terus berkonsultasi dengan berbagai pihak sekaitan dengan rencana pembicaraan lahan sengketa yang melibatkan pihak keluarganya.
Malam harinya, Haeruddin memilih tetap berada di rumahnya. Ia melewatkan malam itu bersama istri, Dg Bollo, 28. Sesekali ia bercanda bersama anak keduanya, Makbul yang masih berusia 10 bulan.
"Tidak ada firasat jika akan terjadi sesuatu esok harinya," beber istri Haeruddin, Dg Bollo.
Dg Bollo terlihat sedih. Kelopak matanya menyisakan kristal bening. Enggan mengalir. Saat ditemui, wanita itu mengenakan kaos warna krem bergaris cokelat. Plus, sarung kotak warna kuning.
DG Bollo berusaha melanjutkan ceritanya. Matanya tajam, Sembab. Dadanya sesak. Kesedihan bergulung-gulung di rongga dadanya. Tanda-tanda jika malam Minggu tersebut adalah malam terakhir bersama suaminya juga tidak ada. "Ia sempat mengatakan gembira karena sebentar lagi jika masalah tersebut akan segera diselesaikan," kenang Bollo.
****
Minggu, 23 Nopember, Dg Bollo masih menyusui Makbul. Kebiasaan Makmul tiap kali bangun, merengek minta disusui. Sedangkan putera pertama dua pasangan ini, Iskandar, 9 tahun masih terlelap. Maklum, murid kelas lima SD Inpres Homebase Desa Towata Takalar itu sedang libur akhir pekan.
Haeruddin telah bersiap-siap memenuhi undangan warga desa seberang. Tubuh Haeruddin dibalut dengan kemeja warna cokelat plus celana jins warna biru. Tanpa sepengetahuan istrinya, Haeruddin beranjak menuju ke rumah mertuanya, Dg Jipa.
Di tempat ini, Haeruddin meminta bukti pembayaran ganti rugi lahan yang disengketakan. Surat tersebut disimpan oleh mertuanya. Tampak kusut berlipat, meski telah di-press dengan plastik.
Usai meraih surat itu, untuk kesekian kalinya, ia kembali bertemu dengan Kades Towata, Hamka.
"Malah ia mengajak kades untuk ikut serta ke lokasi itu, tapi kades menolak ajakan itu," beber Dg Jipa.
Sekira pukul 07.30 Wita, Haeruddin melenggang menuju lokasi pertemuan yang telah ditentukan. Anak bungsu dari lima bersaudara itu menyelipkan surat kepemilikan tanah di kantong celana bagian belakang sebelah kanan.
****
Pukul 09.00 Wita, Dg Bollo sibuk megupas sisik ikan di dapur. Makbul bermain-main bersama kakaknya di ruang tengah rumah permanen itu. Lantai tak beralas tikar. Hanya ada sepasang kursi plastik, satu meja. Dua buah bingkai foto menempel di dinding. Satu ukuran 10 R. Sisanya berukuran 5 R.
Di dalam bingkai terlihat foto Dg Bollo sembari menggendong, Makmul. Senyum keduanya tersungging manis dari patahan bibirnya. Sebuah meja kayu berbalut kain warna hijau merapat di dinding rumah, bersebelahan dengan posisi kursi.
Dg Bollo baru menyelesaikan beberapa ekor ikan yang dibersihkannya. Namun, tiba-tiba dirinya dikagetkan dengan suara keributan di luar rumahnya. Penasaran, Dg Bollo langsung beranjak dari tempatnya, ia berlari keluar rumah. Di depan pintu, ia diadang beberapa warga.
Bak petir di pagi buta, Dg Bollo mendapat kabar suaminya, Haeruddin menuai musibah. Perasannya kian tidak karuan setelah mendengar kabar jika suaminya terkena tikaman dari beberapa warga. Saat yang bersamaan, Dg Jipa juga tiba menemui anak pertamanya itu. Wanita tua itu turut kaget.
Beberapa saat kemudian, teriakan histeris langsung pecah. Saat itu, Hamzah Dg Sila, terlihat memapah Haeruddin yang sudah sekarat. Sekujur kemeja cokelatnya telah berlumur darah. Haeruddin langsung di angkut ke rumah panggung mertuanya.
"Saya mau larikan ke rumah sakit, tapi tidak ada kendaraan saat itu," ujar Dg Bollo. Matanya kian mulai memerah.
Sekira 20 menit Haeruddin bertarung melawan sakit. Hingga akhirnya pihak keluarga menyaksikan kepala dusun yang sudah lima tahun menjabat itu mengembuskan nafas terakhir.
Sebagian tetangga mulai tumpah melayat. Sebagian di antaranya sungsang dan bertanya-tanya. Hari itu juga, peristiwa ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Informasi pemicu masih simpang siur di telinga warga.
****
Jauh di seberang sana, hamparan sawah masih berantakan. Beberapa petani sedang memperbaiki pematang dan sisa lahan yang belum tuntas digarap traktor. Sebagian lainnnya, sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di antara tanaman di atas pematang.
Sekira pukul 08.40 Wita tiba-tiba, telepon genggam Ilyas Dg Rani, 40 berdering. Satu...Dua ....Tiga..., bunyi dering yang keempat baru ia angkat. Dari balik telepon, kabar buruk menghentakkan perasannya. Tanpa pikir panjang, Ilyas segera menuju ke kendaraan roda duanya dan meninggalkan pekerjaannya. Baju dan celananya masih belepotan lumpur.
Ilyas Dg Rani adalah Kepala Dusun Belampang, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa. Anaknya, Hasra 13 tahun, baru saja melansir kabar. Beberapa warga dusunnya terlibat perkelahian dengan warga dusun kampung seberang. Jarak antara sawah miliknya dengan lokasi kejadian berkisar 2 kilometer.
"Saya belum tahu pasti kejadiannya. Saya terus memacu motor sambil berusaha menelepon warga lainnya," cerita Ilyas, Selasa 24 Nopember.
Tak berselang lama, Ilyas telah tiba di lokasi kejadian. Jalanan menuju lahan berjarak sekira 200 meter tidak memungkinkan dilalui dengan motor. Selain jalanan menanjak, kondisinya juga berlumpur. Hujan yang mengguyur pada malam harinya, membuat kondisi jalanan semraut. Lokasi itu memang tergolong perbukitan.
Ilyas memilih memarkir kendaraannnya di pinggir jalan. Sebuah mobil mikrolet juga terparkir di tempat itu. Dengan berlari-lari kecil, ia mulai menanjak jalan menuju lokasi sengketa. Di jalanan, ia masih sempat bertemu dengan beberapa wanita yang berlarian. Jerit histeris meraung-raung dari mulut kaum Hawa ini. "Mereka berhamburan sambil teriak-teriak," ujar Ilyas. Beberapa warga juga telah tiba di tempat itu.
Tiba di lokasi itu, Ilyas tak tahu harus berbuat apa. Dilihatnya tiga sosok tubuh telah tersungkur belumuran darah. Beberapa pasang sandal dan topi tergeletak secara terpisah. Di balik kebingungannya itu, ia berhasil mengenali ketiga orang tersebut.
Mereka adalah, Syaharuddin Dg Lawa, Dg Rahim, ipar Syahruddin, dan Baharuddin Dg Nyampa adik Syaharuddin. Nama yang terakhir ini masih dilihat bergerak. Tanpa berpikir panjang, dibantu beberapa warga Baharuddin langsung dipapah menuruni perbukitan itu . Ia menerita luka tebas yang cukup parah di bagian tangannya. "Saya tidak perhatikan tangan apanya yang terluka saat itu," urai Ilyas.
Dua korban lainnya, dipastikan Ilyas, sudah tewas di lokasi sesaat setelah insiden itu. Satu persatu, kedua korban diangkut warga ke atas mobil. Dg Rahim duluan, menyusul kemudian Syaharudin Dg Lawa. Jarak rumah Syaharudin sekira dua kilometer dari lokasi. Mobil bergerak menuyusur liukan aspal butas mengarak tiga korban. Saat itu, jerit tangis istri Syahruddin, Murianti, 38 terus terdengar.
Setelah mobil berlalu, Ilyas memilih kembali ke lokasi bersama puluhan warga lainnya. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan asap tebal langsung mengepul. Salah satu rumah warga dibakar massa. Diduga pembakaran itu dipicu oleh amarah wagra atas kematian dua keluarga mereka.
"Saya tidak tahu dari mana massa sehingga dengan cepat membakar rumah itu," imbuh Ilyas.
****
Hujan terus mengguyur saat Fajar bertamu ke kediaman Murianti, dua hari pascainsiden maut itu. Tenda berwarna Orange di halaman rumah dibiarkan terlepas. Volume air hujan yang terus bertambah tidak mampu ditahan. Puluhan kursi plastik berwarna biru masih bertumpuk. Dibiarkan basah.
Di teras rumah permanen bercat merah muda, seorang lelaki setengah baya duduk menghisap sebatang rokok. Hisapan terakhir dihembuskan saat Fajar mulai memasuki halaman rumah. Sarung miliknya ia selempang di pundak.
Di sebelahnya, seorang gadis muda berbaju putih mengutak-atik handphone miliknya. Di bagian depan baju kaos lengan panjang miliknya bertuliskan "Slowlife". Dicetak warna biru muda. Ia mengenakan celana kain panjang warna hitam.
Kedua orang itu langsung berdiri menyambut Fajar. Lelaki setengah baya yang mengenakan celana hitam dan baju putih berkerah itu mempersilahkan Fajar duduk di kursi sofa di teras rumah. Titik percikan air membasahi setelah Fajar duduk di kursi itu.
Setelah menunggu beberapa saat, dari halaman rumah muncul seorang lelaki tinggi besar menghampiri. Ia membawa payung sebagai pelindung hujan. Di kepalanya terpasang songkok haji. "Sebaiknya kita di dalam agar kita bisa leluasa bicara," ajak, Dr Rate, tokoh masyarakat di Dusun Belampang. Saat yang bersamaan Kepala Dusun Belampang Ilyas Dg Rani juga ikut menggabungkan diri.
Di ruang tengah, tidak ada kursi terpasang. Hanya hamparan kapet tebal warna biru dan selembar tikar plastik. Seisi dinding rumah dicat warna merah muda. Tak ada pernak-pernik tertempel di dinding.
Di karpet itu, seorang perempuan telah duduk bersimpuh. Dialah Murianti, istri Syaharuddin. Di sampingnya, perempuan muda yang sejak awal kedatangan kami duduk di teras rumah. Namanya, RisWamati. Gadis yang baru berusia 18 tahun itu adalah mahasiswa Akademi Keperawatan (Akper) Angin Mammiri. Saat ini ia masih duduk di bangku kuliah semester satu. Ia adalah buah perjalanan hidup pasangan Syaharuddin dan Murianti.
Raut muka Murianti masih sendu. Rismawati terlihat berusaha tegar. Murianti menarik nafas berat. Rismawati duduk terdiam. Pandangannya, lurus mengarah ke atap rumah. Murianti tertunduk dalam. Di titik inilah, ibu dua anak itu mulai mengurai detik-detik awal sebelum suaminya terlibat insiden itu.
Secara pasti, ia tidak melihat langsung kejadian itu. Satu yang pasti, ia bersama sang suami berencana mmbantu adik suaminya untuk menanam jagung di lahan itu. Sehari sebelumnya, adik Syaharuddin bernama Syamsuddin Dg Bani meminta bantuan dari keluarganya untuk menanam jagung. Selain Syaharuddin, Syamsuddin juga memanggil saudaranya Baharuddin DG Nyampa, Dg Rahim yang merupakan mertua Syamsuddin dan beberapa keluarga dekat lainnya.
"Pastinya, saya dengan almarhum pagi itu akhirnya memenuhi panggilan itu," kenang Murianti.
Minggu 23 Nopember, pagi, sekira pukul 08.00 Wita, kedua pasangan suami istri ini pun bergegas ke lokasi penanaman jagung. Saat itu, Syaharuddin mengenakan baju kaos warna kuning dan celana bermotif lorong milik TNI.
Pasangan ini lalu menyusuri jalan raya dengan mengendarai motor Honda Supra Fit warna hitam. Beberapa keluarganya; perempuan dan laki-laki, sudah lebih dahulu berangkat dengan mengendarai mobil. Di mobil itu juga bibit jagung yang akan ditanam turut diangkut.
Menempuh jarak sekira dua kilometer, pengendara motor tak banyak bersuara. Tak berapa lama berselang, motor pun tiba di jalan masuk ke lokasi penanaman jagung. Syaharuddin pun memarkir motor di bawah pohon di pinggir jalan. Sekali lagi, tanpa banyak bicara Syaharuddin langsung beranjak menyusuri jalanan menuju lokasi.
Langkahnya yang cepat tidak mampu terkejar istrinya. Murnianti pun tertinggal di belakang. Punggung dan jejak Syaharuddin langsung lenyap di balik semak belukar yang rimbun di sisi kanan-kiri jalan itu.
Murnianti terus berjalan menyusul suaminya. Saat akan mencapai pinggiran lahan, tiba-tiba beberapa perempuan berhamburan diikuti teriakan histeris. Kaget bukan kepalang, Murnianti menghentikan langkahnya. Tanpa bertanya gerangan yang terjadi, ia juga turut balik badan hendak berjalan.
Namun dari kejahuan ia melihat suaminya, diserang hingga lunglai terjatuh. Tanpa pikir panjang lagi, Murniati kembali melanjutkan ke lahan itu. Emosional yang memuncak melihat suaminya tersungkur jatuh, langsung meledak. Dengan teriakan penuh, ia menghampiri suaminya. Darah telah bersimbah di sekujur tubuhnya.
"Saat itu, ia masih bergerak. Saya balikkan badannya berusaha menolong," kenang Murianti. Kali ini Murianti memperbaiki posisi duduknya.
Ia mengaku tidak mengenal orang-orang yang menyerang suaminya. Ia pun tak mempedulikan berapa orang yang terluka saat itu. Kondisi suaminya yang gawat memecah konsentrasi Murnianti. Untuk beberapa saat Murnianti tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terus meratap memanggku tubuh suaminya yang berjuang meregang nyawa.
****
Kematian Syaharuddin merupakan pukulan terberat bagi istrinya, Murianti. Kepergian tulang punggung keluarganya itu serasa mimpi di pagi hari. Tak ada firasat dan tanda-tanda istimewa yang diperlihatkan sebelum maut itu menjemput.
"Tak ada pesan apa-apa yng dititipkan almarhum," singkat Murnianti.
Kematian suaminya, diakui Murnianti sangat menyayat perasaannya. Apalagi kejadiran suaminya di lokasi itu hanya untuk menghadiri panggilan keluarga, demi membantu menanam jagung. "Sama sekali ia tidak tahu apa persoalan yang sesungguhnya," imbuh Murnianti. (*)
[makassar, 1 desember 2008]
Isu flu burung menjadi santapan hangat pemberitaan di media massa. Benarkah, media khususnya jurnalis kerap menggembor-gemborkan kasus ini?****Penyebaran virus flu burung setidaknya menguras perhatian berbagai pihak untuk sejenak berkonsentrasi. Musababnya, virus H5N1 ini dalam sekejap dapat menghilangkan nyawa ratusan bahkan ribuan unggas. Ironisnya, virus yang ditemukan pertama kali di Rusia ini telah menjangkiti umat manusia.Media massa -- cetak dan elektronik-- menjadi bagian penting dari kasus besar itu. Kehadiran penyakit ini selalu dikemas spesial dalam pemberitaan. Tidak jarang fakta flu burung mendapat tempat khusus di halaman depan surat kabar dan berita utama di media elektronik.Tidak mengherankan, dalam tempo sesaat, flu burung telah menjadi momok yang menakutkan di tengah masyarakat. Tidak ketinggalan, virus ini telah menggugah nurani para insan media untuk disajikan sebagai berita utama.Tujuannya, salah satunya adalah proteksi dini dan memacu kewaspadaan masyarakat akan bahaya virus mematikan ini. Selain itu, penyebaran informasi mendalam tentang virus ini juga menjadi vital untuk diketahui.Persoalannya adalah, apakah pekerja media telah menjalankan fungsi peliputan secara komprehensif? "Jangan sampai para pekerja media malah membangun kepanikan massa terhadap sebuah isu lantaran pemahaman terhadap isu itu tidak akurat," timpal Kepala Biro Harian Kompas, Nasrullah Nara pada Workshop Jurnalis Peliputan Flu Burung.Reaksi protes tersebut, menurut Nasrullah, muncul akibat ulah jurnalis yang tidak tuntas menyajikan seluruh aspek pada kasus flu burung. Bahkan terkesan, lanjut Nasrullah, pemberitaan di medai massa menjadikan masyarakat kian panik.Kendati Nasrullah tidak menampik jika kasus flu burung selalu menjadi headline di media massa. Namun, bukan berarti penyampaian kasus ini monoton pada peristiwanya yang tragis."Fokus pemberitaan juga bisa untuk membangun kesadaran akan bahaya flu burung, sehingga ada upaya penanganan," jelas mantan wartawan desk humaniora ini.Sementara itu, aspek lainnya yang tak kalah pentingnya adalah etika jurnalis melakukan peliputan terhadap korban flu burung. Tidak serta merta, pola teknis peliputan digunakan untuk semua aspek liputan."Seorang jurnalis yang berempati tentu akan memahami keadaan dirinya, orang lain dan areal liputan,'' papar Dosen Komunikasi Universitas Hasanuddin, Mansyur Semma.Mansyur menguraikan, hal penting yang harus diketahui seorang jurnalis adalah kondisi psikologi bagi keluarga dan penderita flu burung. Pasalnya, aspek tersebut menentukan adanya informasi yang nantinya dapat disajikan kepada pembaca."Selayaknya seorang jurnalis lebih berempati dan memperlihatkan simpati terhadap korban flu burung," imbuh Mansyur.Dalam hal penulisan pun harus diperhatikan jurnalis. Pemilihan diksi dan rasa bahasa menjadi patokan utama dalam menyajikan informasi kasus flu burung. Terlebih lagi jurnalis diimbau untuk tidak terburu-buru mendeskripsikan fakta-fakta yang bersifat vonis terhadap pasien."Jurnalis juga diimbau untuk tidak menuliskan secara full nama dan identitas korban untuk menghindari penerimaan masyarakat yang bersifat negatif," saran Mansyur.Pada akhirnya, jurnalis, flu burung, dan masyarakat adalah satu rangkaian mata rantai yang tak terpisahkan. Bahawa, pemberitaan penyebaran virus flu burung menjadi salah satu shock terapi khusus bagi masyarakat dan pemerintah agar tidak menanti jatuhnya korban baru. [*][makassar, 15 November 2007]